KotaSantri.com : "... Barangsiapa yang beriman kepada ALLAH dan Hari Akhir, maka hendaknya ia memuliakan tamunya..." (#)
Jika kita melihat kehidupan dalam masyarakat modern saat ini, maka akan nampak jelas bagi kita bahwa kedudukan tamu diklasifikasikan menjadi 2 kelompok; kelompok tamu yang menguntungkan bagi tuan rumah dan kelompok tamu yang tidak disenangi tuan rumah. Perlakuan tuan rumah kepada kedua jenis tamu ini tentulah berbeda; tamu yang dianggap menguntungkan akan disambut dengan ramah sementara tamu yang tidak disenangi akan disambut oleh papan : Awas Anjing Galak! Atau jawaban dari pembantu rumahtangga : Tuan/Nyonya sedang tidak ada di rumah; dengan harapan agar tamu tersebut tidak akan kembali lagi. [i].
Semua hal ini terjadi karena segala sesuatu telah diukur berdasar nilai materi semata-mata, baik sang tuan rumah maupun sang tamu kebanyakan menjalin hubungan yang bersifat materialistik ansich, sehingga wajar jika fenomena di atas yang terjadi. Islam meletakkan paradigma yang sama sekali berbeda tentang hal ini, karena tata-sosial masyarakat Islam didasarkan atas aqidah dan nilai-nilai ukhrawi, artinya bahwa setiap tamu yang datang adalah sebuah kesempatan emas untuk menjalin silaturrahim dan menambah pahala akhirat, sehingga wajiblah bagi tuan rumah untuk memuliakan tamunya. Lihatlah hadits di atas, nabi SAW memasukkan sikap menghormati tamu sebagai salah satu bagian dari keimanan (aqidah) : "Barangsiapa yang beriman kepada ALLAH dan Hari Akhir maka hendaklah memuliakan tamunya."
Sebaliknya dalam Islam seorang tamu juga adalah hamba ALLAH yang berpeluang untuk mendulang pahala akhirat, sehingga ia pun diwajibkan untuk melaksanakan adab/etika bertamu, diantaranya agar tidak mengganggu tuan rumah jika ia sedang sibuk, sehingga cukup memberi salam sebanyak 3 kali saja, dan jika tidak dibukakan maka sebaiknya ia pulang, sebagaimana dalam hadits nabi SAW : "... Apabila beliau SAW mendatangi suatu kaum, maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sampai 3 kali." [ii]. Selain itu ketika menunggu di depan rumah hendaknya seorang tamu tidak menatap ke pintu atau jendela. Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai melihat aurat orang yang di dalam rumah, sebagaimana dalam hadits : "Bahwa nabi SAW jika datang ke pintu dan hendak minta izin masuk beliau tidak menatapnya (pintu itu), tapi beliau berdiri menyamping ke kanan atau ke kiri. Bila diizinkan beliau akan masuk dan bila tidak diizinkan beliau akan pulang." [iii]. Ucapan salam dan minta izin masuk ini pun dilakukan walau terhadap rumah/kamar anak kita sendiri jika mereka telah baligh [iv], demikian pula ibu kita [v], saudari perempuan kita [vi]. Ini semua termasuk keumuman tafsir QS. an-Nur : 28 dan 59; kecuali kepada istri/suami kita berdasarkan istitsna (pengecualian) pada QS. an-Nur : 29 nya.
Demikian pula seorang tuan rumah hendaklah memuliakan tamunya dengan menghormati dan menjamunya sebaik-baiknya sesuai apa yang ia miliki, marilah kita simak sebuah penuturan yang sangat indah dalam al-Qur’an tentang bagaimana hamba ALLAH yang mulia Ibrahim as dan tamu-tamunya, sebagai berikut : "SUDAHKAN SAMPAI KEPADAMU KISAH TENTANG TAMU-TAMU IBRAHIM YANG DIMULIAKAN (MALAIKAT-MALAIKAT)? INGATLAH KETIKA MEREKA MASUK KE TEMPATNYA LALU MENGUCAPKAN : SALAAM... IBRAHIM PUN MENJAWAB : SALAAM... WAHAI ORANG-ORANG YANG TIDAK DIKENAL. MAKA IA (IBRAHIM) PERGI DENGAN DIAM-DIAM MENEMUI KELUARGANYA LALU DIBAWAKANNYA DAGING ANAK SAPI YANG GEMUK (YANG DIPANGGANG), LALU DISAJIKANNYA KEHADAPAN MEREKA. LALU IBRAHIM BERKATA : TIDAKKAH KALIAN BERKENAN MENYANTAPNYA." [vii]
Lihatlah demikian hormat dan santunnya sang nabi yang mulia Ibrahim as dalam memuliakan para tamunya, walaupun tamu tersebut sama-sekali tidak dikenalnya. Dan bagi para al-Abrar (orang-orang yang paling bersegera berbuat kebaikan), maka simaklah hadits berikut ini untuk kalian contoh; "Seseorang datang kepada nabi SAW : Lalu nabi SAW berkata : Siapa yang akan memuliakan tamu ini? Maka jawab seorang sahabat Anshar : Saya wahai rasuluLLAH! Lalu ia menuju pulang (bersama tamu tersebut) dan berkata (pada istrinya) : Dinda, muliakanlah tamu rasuluLLAH SAW. Istrinya menjawab : Kita tidak punya apa-apa kanda, KECUALI JATAH UNTUK ANAK-ANAK. Lalu suaminya berkata : Kalau begitu hidangkanlah (untuk tamu kita) dan (pura-puralah) memperbaiki lampumu. Ajaklah anak-anak kita tidur sebelum waktu makan malam. Lalu dilakukan oleh istrinya, lalu memadamkan lampu (seolah-olah sedang diperbaiki), kemudian suami istri itu seakan-akan makan, padahal mereka semalaman belum makan. Setelah pagi tiba, ia datang kepada nabi SAW, tiba-tiba beliau SAW bersabda : Sungguh ALLAH kagum atas perbuatanmu berdua. Kemudian turunlah ayat : DAN MEREKA MENGUTAMAKAN ORANG-ORANG MUHAJIRIN ATAS DIRI-DIRI MEREKA SENDIRI, SEKALI PUN MEREKA DALAM KEADAAN YANG SANGAT MEMBUTUHKAN. MAKA BARANGSIAPA YANG DIPELIHARA DARI KEKIKIRAN DIRINYA, MAKA MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG." [viii].
---
(#) Hadits Riwayat :
1. Bukhari, kitab al-Adab, bab Man Kana Yu'minu biLLAH; juga juz-X/441.
2. Muslim, kitab al-Iman, hadits no.77; juga III/1352, hadits no. 14, 15.
[i] Ini bisa dicermati dalam buku-buku Chicken’s Soup yang terkenal, seperti How to Win Friends & Influence People-nya Dale Carnegie atau The 7 Habits of Highly Effective People-nya Stephen R. Covey misalnya.
[ii] HR. Bukhari, 11/22; Tirmidzi 27/24;
[iii] HR. Bukhari dalam Adabul-Mufrad dan Abu Daud (5186); menurut Albani hasan-shahih.
[iv] HR. Bukhari dalam Adabul-Mufrad dan di-shahih-kan oleh Albani.
[v] Ibid.
[vi] Ibid.
[vii] QS. Adz-Dzariyat : 24-27.
[viii] HR. Bukhari, kitab at-Tafsir Surah al-Hasyr, bab Wa Yu'tsiruna 'ala Anfusihim; Muslim, kitab al-Asyribah, hadits no. 172.
*) Serial Sosiologi Islam


0 komentar